Minggu, 30 Juni 2013

Dua Jam Dengan sejuta Kesan Indah

Yang ku ingat pesan ustad Imam MansYur dalam pertemuan kami yang singkat bersama para kader adalah " Kutitipkan kalian dengan Allah, Aku mencintai Kalian Karena Allah, Kuatkan iltizam bil Jama'ah. ikhlas dalam Amal.. Kuat dalam ibadah. Allah tidak akan memberikan kemenangan itu ketika kita belum sanggup menerima amanah itu. 

Sahabat... tidak banyak mungkin kata -kata yang bisa kurangkai tuk menunjukan betapa kata-kata itu menghujam dalam sanubari dan menggugah kami yang berkumpul diruang sederhana itu.

Ruang sederhana itu membuatku merasakan Ukhuwah dan ikatan Iman yang membuat segala yang sederhana terkesan mendalam. pertemuan singkat dengan sejuta aktivitas tuk dakwah n umat...

insyallah bulan ramadhan yang penuh berkah ini. banyak amal n aksi sosial yang akan dilakukan..

sahabat....
ada yang sumbangi spanduk beberapa lembar. n insyaAllah bulan ramadhan akan dipasang. sembako murah yang insyallah akan dilakukan merupakan sumbanga dari kader.. kami berkumpul dan setiap kami yang merasa mampu menyumbang maka disanalah uang saku kader keluar...

Semua tuk amal... para kaderpun yakin.. setiap harta yang dikeluarkan tuk Allah SWT.. Allah akan menambahkannya kembali harta kita. so... nggak ada kader yang miskin hanya karena bersedekah dijalan Allah

Sahabat...
indah bukan jikalau hidup itu kita lakukan tuk banyak membantu orang-orang disekeliling kita. hidup itu umat. hidup tuk amal dan hidup tuk dakwah karena Allah....

semoga suatu hari nanti..,
sahabat sekalian juga merasakan apa yang kurasakan.Indahnya Jalan ini...



Palembang, 01 Juli 2013
Disepinya kantor siang ini

Maryam Annasyath

Jumat, 28 Juni 2013

Menjadi Muslimah Tangguh

apakah mereka yang slalu berbuat baik itu tak pernah "terluka"
ah kawan.. boleh jadi mereka lah yang paling banyak terluka di "jalan ini"
bahkan mungkin hati mereka sudah tak utuh lagi.. tercabik dan terkoyak di sana-sini..
lalu mengapa mereka terus menebar kebaikan..?
karena yang mereka cintai adalah Allah… bukan dirinya sendiri…

[Sarwo Widodo Arachnida]

“3 hari sesudah menikah… kami pun hidup terpisah…” ucapnya dengan suara datar. 
“Subhanallah…artinya sejak itu anti di Jakarta dan suami di Jawa Timur...? ” tanya Murobbiyah saya untuk meyakinkan. 
“Benar…” jawab akhwat tersebut dengan penuh keyakinan tanpa penyesalan. 

Itu sepenggal kisah yang dibagi murabbiyah saya saat duduk bersama di Masjid Islamic Center, pagi itu. Kisah tentang salah seorang akhwat pembimbing anak-anak calon penghafal Al Qur’an di Markaz Utrujah yang dirintis oleh DR. Sarmini Lc. MA. Seorang Akhwat tangguh yang berani mengambil pilihan memenangkan Allah dan dakwah di atas kesenangan pribadinya. Beliau lebih memilih mendampingi anak-anak menghafal setiap ayat demi ayat Al Qur’anul Karim dengan konsekuensi harus terpisah jarak dengan sang suami. Beliau lebih memilih bersabar untuk tidak berjumpa dengan suami yang dicinta demi mengantarkan bocah-bocah calon penghafal Al Qur’an itu menjadi generasi Robbani yang akan menjayakan dan memuliakan Islam dengan Al Qur’an. Sebuah pilihan yang tak mudah memang, tapi beliau telah membuat keputusan.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguhlah selayaknya kita mengambil teladan. Sebab dalam hidup akan ada begitu banyak tantangan yang mesti kita hadapi. Sebab dalam hidup tak sedikit “persimpangan jalan” yang bakal memaksa kita untuk membuat pilihan dan keputusan. Sebab dalam hidup terlampau sering manusia “dipaksa” menjadi lebih kuat agar tidak mengalah pasrah saat menghadapi masalah.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguh kita belajar, belajar terus menebar kebaikan. Mereka tak hidup untuk dirinya sendiri tapi juga menghidupkan dan memberi manfaat pada sekitarnya. Mereka percaya dengan penuh keyakinan jika di setiap langkah hidup yang mereka tempuh itu demi Allah dan dakwahNya, maka tak pernah akan ada yang sia- sia. Allah Maha Melihat dan malaikatpun tak akan lalai mencatat.. Mereka sepenuhnya mengimani firmanNya :

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 60)

Jika sebuah pilihan yang tak mudah telah diambil, benturan dan luka adalah sebuah keniscayaan. Bentuknya bisa jadi berupa perasaan tidak nyaman, godaan keikhlasan, cacian dan celaan, rasa tidak puas serta tuntutan berlebihan dari lingkungan hingga lintasan hati untuk menghentikan perjuangan. Mungkin tidak cukup sekali, dua kali, tiga kali, bahkan mungkin akan berkali-kali benturan dan luka yang akan terjadi. Tapi pribadi berjiwa tangguh tak terlalu risau dengan segala luka dan kepahitan itu. Mereka lebih memilih Allah dari pada sekedar rasa nyaman. Mereka memilih untuk menjadi kuat sebab mereka tahu Allah yang akan memampukan dan menguatkan mereka dengan pertolonganNya.

”…dan merupakan hak Kami, untuk Menolong orang-orang yang beriman…” (QS. Ar-Rum 47)

“Yang pasti modal awalnya azzam yang kuat… kemudian jiddiyah… bersungguh-sungguh…” kata murabbiyah saya sambil menepuk lembut lutut mutarabbi yang sedang bersila di sampingnya. “Akhwat tadi bisa… Bu Sarmini juga bisa… antipun pasti bisa…” sambungnya menguatkan. Tiba–tiba… serasa sebuah pilihan dihamparkan di hadapan saya. Pilihan menjadi tangguh atau pengeluh…? Menjadi gagah atau kalah…? Pilihan pertama lebih indah sepertinya… bagaimana menurut kalian..? [Kembang Pelangi]

sumber : http://www.bersamadakwah.com/2013/05/menjadi-akhwat-tangguh.html

Kamis, 27 Juni 2013

Maryam Annasyath: Mentari Ikhlas di Hatimu

Maryam Annasyath: Mentari Ikhlas di Hatimu

Mentari Ikhlas di Hatimu

Mentari Ikhlas di Hatimu

Behind The Screen

Behind The Screen

Gerimis Hujan malam ini

Bersama anak-anak asrama kuhabiskan waktu bersama.....
menkmati indahnya malam dengan senam jari yang mengikuti irama tulisanku...
mendengarkan curahan hati mereka....
mendengarkan suara ceria dan canda tawa mereka....

Malam ini gemuruh halilitan menyapa kami ditinggi gedung asrama....
suaranya begitu gaduh dengan cahaya yang mengalahkan terangkan cahaya lampu asrama...
hmhmhmmhmhmmm..............
akhirnya....
hujanpun turun....

sahabat.... 
kata sahabatku....
berdoalah dikala hujan turun...
karena disanalah keberkahan dari langitpun turun....


Palembang, 27 Juni 2013
Maryam Annasyath

Rabu, 26 Juni 2013

Puisi - puisi

Bila Tiba Waktu Berpisah

Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah tiada tara
Di atas hamparan bumi dengan segala lukisannya yang panjang terbentang
Masih kudapatkan dan kurasakan
Curahan  rahmat dan berbagai ni'mat
Yang kerap Kau berikan
Tapi bila tiba waktu berpisah
Pantaskah kumemohon diri
Tanpa setetes syukur di samudera rahmat-Mu

Di siang hari kulangkahkan kaki bersama ayunan langkah sahabatku
Di malah hari kupejamkan mata bersama orang-orang yang kucintai
Masih kudapatkan dan kurasakan
Keramaian suasana dan ketenangan jiwa
Tapi bila tiba waktu berpisah
Akankah kupergi seorang diri
Tanpa bayang-bayang mereka yang akan menemani

Ketika kulalui jalan-jalan yang berdebu yang selalu mengotori tubuhku
Ketika kuisi masa-masa yang ada dengan segala sesuatu yang tiada arti
Masih bisa kumenghibur diri
Tubuhku kan bersih dan  esok kan lebih baik
Tanpa sebersit keraguan
Tapi bila tiba waktu berpisah
Masih adakah kesempatan bagiku
Tuk membersihkan jiwa dan hatiku

Setiap kegagalan yang membawa kekecewaan
Setiap kenyataan yang menghadirkan penyesalan
Masih kudengar dan kurasakan
Suara-suara yang menghibur
Tuk menghapus setiap kecewa dan sesal
Tapi bila tiba waktu berpisah
Adakah yang akan menghiburku
Akankah aku pergi tanpa kekecewaan dan penyesalan