Minggu, 06 April 2014

surat cinta untuk Murabbi q



Palembang,  5 Februari 2013
Teruntuk Ayundaku tercinta
"Si  Malaikat  Tak Bersayap"

Assalamualaikum wr. Wb
Ayuk ku….
Ini adalah surat yang  Ci tulis dari rasa yang dianugrahkan Allah. Dengan scenario Allahlah kita dipertemukan dalam kecintaan padaNya dan rasulNya dan dalam satu tujuan dakwah…Syukron atas semua ilmu yang tlah ayuk berikan slama ini… bagi Ci pertemuan ini begitu singkat… barulah Ci merasakan kedekatan dan keakraban denganmu…  tapi sekarang kita akan berpisah..
 Syukron atas ilmu yanag tlah diberikan dan pengalaman serta perhatian ayuk tuk ci… Apalagi Ci Stikes  yang tinggal diasrama dengan sekelumit masalah remaja-remaja. Dengan motivasi dan dukungan ayuk… ada hal yang baru dan bisa ci berikan pada mereka disana…

Ayuk ku…
Ketika pertemuan akan nada perpisahan… Maafkan slama kebersamaan ini membuatmu repot dan menyita waktumu… demi dakwah ayuk rela meluangkan waktu untuk kami… Moga menjadi ummahat yang tangguh dan sll bisa menjadi contoh bagi kami yang belum berumah tangga ini…

ayuk ku….
Terimakasih sudah  memarahi kami…. Marah karena kami lalai dengan haknya Allah… Marah ketika kami sibuk dengan rutinitas dunia yang melalaikan hak-haknya umat untuk menjadikan kami dai dan teladan..marah karena kami tidak lagi melaksanakan Amalan yang menguatkan ruhiyah kami…kami tahu kami salah dan kami senang  karena masih ada yang menigngatkan kami ditengah kelalaian kami…
Ayuk ku…
Semoga Allah menjadikanmu Bidadari disurga dan menjadi Istri yang selalu sholeha dan mendukung dakwah suami… allah membangunkanmu istana disurga yang diperuntukan Allah untuk orang-orang yang berjihad dengan pikiran, harta dan tenaganya…malaikatpun selalu mengaminkan setiap doa dan munahajatmu…
Ana Uhibbukifillah ayunda

Chi chi chang

Kamis, 31 Oktober 2013

KEMUNDURAN DAN TERHAPUSNYA ISLAM DI ANDALUSIA



CICI ERMANELI : 62 2007 011


A. Pendahuluan

Andalusia (bahasa Spanyol: AndalucĂ­a) adalah sebuah komunitas otonomi Spanyol. Andalusia adalah wilayah otonomi yang paling padat penduduknya dan yang kedua terbesar dari 17 wilayah yang membentuk Spanyol. Ibu kotanya adalah Sevilla. Andalucia dibatasi di utara oleh Extremadura dan Castilla-La Mancha; di sebelah timur oleh Murcia dan Laut Mediterania; di sebelah barat oleh Portugal dan Samudra Atlantik (barat daya); di selatan oleh Laut Mediterania (tenggara) dan Samudra Atlantik (barat daya) terhubungkan oleh Selat Gibraltar di ujung selatan yang memisahkan Spanyol dari Maroko. Juga di selatan ia berbatasan dengan Gibraltar, koloni Britania Raya.
Nama Andalusia berasal dari nama bahasa Arab "Al Andalus", yang merujuk kepada bagian dari jazirah Iberia yang dahulu berada di bawah pemerintahan Muslim. Budaya Andalusia sangat dipengaruhi oleh pemerintahan Muslim di wilayah itu selama delapan abad, yang berakhir pada 1492 dengan penaklukan kembali atas Granada oleh raja dan ratu Katolik.
Selama delapan abad, Islam berjaya di bumi Eropa (Andalusia), maka pada saatnya Islam yang pernah membangun peradaban yang cukup gemilang itu harus runtuh dan tersungkur di tanah Eropa. Peradaban Islam yang telah di bangun dengan suasah payah dan kerja keras kaum Muslimin itu, harus ditinggalkan dan dilepas begitu saja karena kelemahan-kelemahan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin sendiri, dan karena kegigihan bangsa barat / Eropa untuk merebut dan meruntuhkan peradaban Islam.
Islam di Andalusia awalnya dibentuk pada masa Bani Umayyah pada tahun 92 H atau tepatnya ditahun 711 M. Pada pimpinan Andalusia periode pertama secara poliktisi belum stabil. Diperiode II (755-912 M) merupakan puncak keemasan kemajuan dan kemakmuran disegala bidang. Diperiode ke III (912-1031 M), merupakan puncak keemasan kemajuan dan kemakmuran Islam yang mengantarkan pada suatu peradaban Islam yang sempurna dan berkwalitas tinggi. Pada periode ke-IV (1031-1086 M) Andalusia sebagai suatu kerajaan yang berdaulat yang utuh mengalami disintegrasi. Ini merupakan merupakan periode-periode awal kehancuran Islam (Fadli Yanur 24, Okt ’09)
B.     Pembahasan
Faktor-faktor yang menjadi  penyebab  runtuhnya  agama Islam di Andalusia diantaranya adalah :
1.      Konflik Islam dengan Kristen
Kehadiran Arab islam telah memperkuat rasa kebangasaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal  ini menyebabkan kehidupan Islam diSpanyol tidak lepas dari pertentangan antara Islam dengan Kristen.
2.      Tidak adanya Ideologi pemersatu
Kalau ditempat-tempat lain para muallaf diperlakukan  seperti orang Islam yang sederajat, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak menerima orang-orang pribumi.
3.      Kesulitan Ekonomi
Para penguasa hanya membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan daengan saangat serius  sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer.
4.      Keterpencilan
Islam bagaikan dunia Islam yang lain. Berjuang sendirian tanpa mendapatkan bantuan dan tidak adanaya kekuasaan yang mamapu mendukung kebangkitan umat Kristen disana.

Dalam pandangan Ibn Khaldun  jatuhnya sebuah peradaban disebabkan oleh :
(1)         rusaknya moralitas penguasa,
(2)         penindasan penguasa dan ketidakadilan
(3)         Despotisme atau kezaliman
(4)         orientasi kemewahan masyarakat
(5)         Egoisme
(6)         Opportunisme
(7)         Penarikan pajak secara berlebihan
(8)         Keikutsertaan penguasa dalam kegiatan ekonomi rakyat
(9)         Rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama dan
(10)     Penggunaan pena dan pedang secara tidak tepat.

Kesepuluh poin ini lebih mengarah kepada masalah-masalah moralitas masyarakat khususnya penguasa. Nampaknya, Ibn Khaldun berpegang pada asumsi bahwa karena kondisi moral di atas itulah maka kekuatan politik, ekonomi dan sistem kehidupan hancur dan pada gilirannya membawa dampak terhadap terhentinya pendidikan dan kajian-kajian keislaman, khususnya sains. Menurutnya “ketika Maghrib dan Spanyol jatuh, pengajaran sains di kawasan Barat kekhalifahan Islam tidak berjalan.” (Bani Hamzah, 24 Oktober 2009)
Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Lebih jelas Ibn Khaldun menyatakan:
”Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat dikalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba”
Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik. Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya Sumber Daya Manusia (SDM) ke negara lain (braindrain) dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanimse rekrutmen yang terganggu. Semua itu bermuara pada turunnya produktifitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem pengembangan ilmu pengertahuan dan ketrampilan.
Dalam peradaban yang telah hancur, masyarakat hanya memfokuskan pada pencarian kekayaan yang secepat-cepatnya dengan cara-cara yang tidak benar. Sikap malas masyarakat yang telah diwarnai oleh materialisme pada akhirnya mendorong orang mencari harta tanpa berusaha. Secara gamblang Ibn Khaldun menyatakan:
…..mata pencaharian mereka yang mapan telah hilang, ….jika ini terjadi terus menerus, maka semua sarana untuk membangun peradaban akan rusak,dan akhirnya mereka benar-benar akan berhenti berusaha. Ini semua mengakibatkan destruksi dan kehancuran peradaban.
Lebih lanjut ia menyatakan: “Jika kekuatan manusia, sifat-sifatnya serta agamanya telah rusak, kemanusiaannya juga akan rusak, akhirnya ia akan berubah menjadi seperti hewan”

C.      Simpulan
Dari pemaparan makalah diatas, kami menyimpulkan :
1.            Islam di Andalusia awalnya dibentuk pada masa Bani Umayyah pada tahun 92 H atau tepatnya ditahun 711 M. Pada pimpinan Andalusia periode pertama secara poliktisi belum stabil. Diperiode II (755-912 M) merupakan puncak keemasan kemajuan dan kemakmuran disegala bidang. Diperiode ke III (912-1031 M), merupakan puncak keemasan kemajuan dan kemakmuran Islam yang mengantarkan pada suatu peradaban Islam yang sempurna dan berkwalitas tinggi. Pada periode ke-IV (1031-1086 M)
2.            Andalusia sebagai suatu kerajaan yang berdaulat yang utuh mengalami disintegrasi. Ini merupakan merupakan periode-periode awal kehancuran Islam.
3.            Adapun sebab-sebab keruntuhan  dan kemunduran Islam di Andalusia dikarenakan adanya :
a.       Konflik Islam dengan Kristen
b.      Tidak adanya Ideologi pemersatu
c.       Kesulitan Ekonomi
d.      Keterpencilan



DAFTAR PUSTAKA

Nizal Syamsul, 2008, Sejarah Peradaban Islam : Menulusuri  Jejak Sejarah Pendidikan Era Raasulullah Sampai ke Indonesia, Jakarta : PT Kencana,
www. Islam di Andalusia.com
www. Kemunduran Peradaban Islam.com
www. Runtuhnya Islam di Andalusia.com

 
 

PERADABAN YANG DI BANGUN WALI–WALI DI JAWA



A. Pendahuluan
            Walisongo adalah wali yang sembilan, yang menandakan  jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa jawa. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, Serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang bersamaan. Namun,  satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam ikatan pernikahan atau dalam hubungan murid.
            Walisongo atau walisanga dikenal sebagai penyebar Agama Islam di Tanah Jawa pada abad ke-17. Mereka tinggal di pantai Utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting yakni Surabaya – Gresik – Lamongan di Jawa Timur, Demak – Kudus – Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada massanya. Mereke juga mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru di tanah Jawa.
            Era walisongo adalah era berahirna dominasi Hindhu – Budha dalam budaya nusantara untuk digantikan dalam kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokih lain yang juga berperan. Namun peran mereka yang sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para walisongo ini lebih banyak disebut dibandingyang lain.
            Pada kesempatan ini, pemakalah akan memaparkan mengenai bagaimana cara para wali dalam menyebarkan Agama Islam, selain itu juga akan dipaparkan mengenai peradaban – peradaban apa saja yang telah dibangun para wali di tanah Jawa pada massanya.



B. Pembahasan
            Walisongo sebagai tokoh penyebar ajaran Islam di Indonesia, selalu dikaitkan dengan hal – hal yang kurang rasional, bahkan lebih dekat dengan ajaran yang tidak Islami. Barangkali kisah yang banyak beredar di masyarakat bersumber dari penulis yang menetang Islam, karena kecenderungan para ulama yang kurang memperhatikan penulisan sejarah. Kelemahan ini yang menjadi penyebab utama kenapa kisah sejarah mereka banyak di tulis oleh penulis yang bukan beragama Islam.
            Para wali, meskipun masing – masing tidak hidup sezaman,tetapi dalam pemilihan wilayah dakwahnya tidak sembarangan. Penentuan tempat dakwahnya mempertimbangkan pula faktor geostrategi yang sesuai dengan kondisi zamannya. Mereka memilih pulau Jawa karena mereka melihat Jawa sebagai pusat kegiatan ekonomi, politik dan kebudayaan di Nusantara pada saat itu. Sebagai pusat perniagaan, tentunya Jawa banyak dikunjungi oleh pedagang – pedagang dari luar Jawa, sehingga diharapkan para pedagang inilah yang nantinya akan menyebarkan ajaran Islam di daerah asal mereka.
            Kalau kita perhatikan darimkesembilan wali dalam pembagian wilayah dakwahnya, ternyata mereka membagi wilayah jawa dengan raiso 5:3:1. Jawa Timur mendapat perhatian besar dari para wali. Di sini ditempatkan 5 wali, dengan pembagian teritorial dakwah yang berbeda. Maulana Malik Ibrahim sebagai wali perintis mengambil wilayah Gresik. Setelah beliau wafat, wilayah ini di kuasai oleh Sunan Giri. Sunan Ampel mengambil posisi dakwahnya di Surabaya. Sunan bonang  di Tuban, sedangkan Sunan Drajat di Sedayu (http://www. Jawaplace.Orang/walisongo2.htm).
            Kalau kita perhatikan posisi wilayah yang dijadikan basis dakwah kelima wali tersebut, semuanya mengambil tempat “kota bandar” atau pelabuhan. Pengambilan posisi ini adalah ciri Islam sebagai ajaran yang disampaikan oleh para da’i yang berprofesi sebagai pedagang. Berkumpulnya kelima wali ini di Jawa Timur adalah karena kekuatan politik saat itu berpusat di wilayah ini. Kerajaan Kediri di Kediri dan Majapahit di Mojokerto.
            Di Jawa Timur para wali terlihat sebagai penyebar Islam yang berdagang. Artinya tidak seperti yang di gambarkan oleh “dongeng” yang memberitakan kisah para wali sebagai “bhiksu”, atau lebih banyak beribadah semacam bertapa di gunung dari pada aktif di bidang perekonomian. Ternyata dinamika kehidupannya lebih rasional seperti halnya yang di contohkan oleh Rasulullah yang juga pernah berdagang. Di Jawa Tengah para wali mengambil posisi di Demak, Kudus dan Muria.
            Di Jawa Tengah dapat dikatakan bahwa pusat kekuasaan politik Hindhu dan Budha sudah tidak berperan lagi. Hanya para wali melihat realita masyarakat yang masih di pengaruhi oleh budaya yang bersumber dari ajaran Hindhu dan Budha. Dan mereka melihat bahwa wayang sebagai media komunikasi yang memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat (Badri Yatim: 1997). Oleh karena itu, wayang perlu dimodifikasi, baik bentuk maupun isi kisahnya perlu di Islamkan. Penempatan para wali di Demak, Kudus dan Muria ternyata tidak hanya ditujukan untuk penyebaran Islam di Jawa Tengah semata, tetapi untuk kawasan Indonesia Tengah seluruhnya. Saat itu, pusat kekuatan politik dan ekonomi memang sedang beralih ke Jawa Tengah. Perubahan kondisi politik seperti ini, memungkinkan ketiga tempat tersebut mempunyai arti geostrategis yang menentukan.
            Di Jawa Barat, prses Islamisasi hanya di tangani oleh seorang wali, Syaarif Hidayatullah, yang setelah wafat dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Pada saat itu, penyebaran Agama Islam di wilayah Indonesia Barat, terutama di Sumatera dapat dikatakan telah merata bila di bandingkan dengan kondisi Indonesia Timur. Seperti sekarang hal yang semacam itu masih dapat kita saksikan kenyataannya. Adapun pemeliharaan kota Cirebon sebagai pusat aktivitas dakwah Sunan Gunung Jati, tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan jalur perdagangan rempah – rempah sebagai komoditi yang berasal dari Indonesia Timur, ataupun ke Indonesia Barat. Oleh karena itu, pemilihan Cirebon dengan pertimbangan social, politik, dan ekonomi saat itu, mempunyai nilai geostrategis, geopolitik dan geoekonomi yang memnentukan keberhasilan penyebaran Islam selanjutnya.
            Masing – masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi kerajaan Hindhu Majapahit, Sunan Giri yang disebut  para kolonialis sebagai “ paus” dari Timur, hingga Sunan Kalijaga yang menciptakan karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa, yakni nuansa Hindhu  dan Budha. Mereka menganalkan berbagai bentuk peradaba baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan, kemasyarakatan hingga (http://www.mesias.8k.com/asvi2.htm). 
           

            Adapun wali – wali yang ada di Tanah Jawa itu ada sembilan, diantaranya:
1. Maulana malik ibrahim
            Maulana Ibrahim umumnya di anggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islamdi Jawa. Ia mengajarkan cara – cara bercccok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati para masyarakat yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.ia membangun pondokan tempat belajar Agama di Leran Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat, makamnya terdapat di desa Gapura Waten Gresik Jawa Timur.

2. Sunan Ampel
            Sunan Ampel umumnya di anggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah satu pusat penyebaran Agama Islam tertua di Jawa. Ia membangun mengembangkan pondok pesantren, mula – mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan abad ke 15, pesantren tersebut menjadi sentral pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah nusantara bahkan mancanegara.

3. Sunan Giri
            Sunan Giri adalah putra Maulana Ishak. Sunan Giri adalah keturunan ke-12 dari Husain bin Ali, yang merupakan murid dari Sunan Ampel dan seperguruan dari Sunan Bonang. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di Kedaton, Gresik, yang selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah Islam di Jawa dan di Indonesia Timur, bahkan sampai ke kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri Prapen, yang menyebarkan Agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima.

4. Sunan Bonang
            Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel. Ia merupakan keturunan ke-13 dari Husain bin Ali. Ia Banyak berdakwah melalui kesenian menarik penduduk Jawa agar memeluk Agama Islam. Ia dikatakan sebagai pengubah Suluk Wijil dan Tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang. Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang, yang sering di hubungkan dengan namanya.

5. Sunan Kalijaga
            Sunan Kaljaga adalah putra Adipati Tuban, ia adalah murid Sunan Bonang. Ia menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal, ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil memepengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah di pahami maka dengan sendirinya kebiasaan lama kan hilang. Oleh sebab itu, ajaran Sunan Kalijaga terksan sinkretis dalam mengenalkan  Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang,gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah.

6. Sunan Kudus
            Sunan Kudus adalah keturunan ke-14 dari Husaen bin Ali. Sebagai seorang wali Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan kesultana Demak. Yaitu sebagai panglima perang dan hakim peradilan Negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Salah satu peninggalannya yang trkenal adalah Masjid Menara Kudus, yang arsitekturnya bergaya campurann Hindhu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.

7. Sunan Gunung Jati
            Sunan Gunung Jati adalah satu – satunya walisongo yang memimpin pemerintahan. Ia memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra raja pajajaran untuk menyebarkan Islam dari Pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Pariangan. Namun ia juga membangun infrastruktur berupa jalan yang menghubungkan antar wilayah.

8. Sunan Drjat
            Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-13 dari Husain bin Ali. Ia banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengalaman dari Agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di desa Drajat, kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat pangkur di sebutkan sebagai penciptaanya. Gamelan Singo mengkok peniggalannya terdapat di museum daerah Sunan Drajat, Lamongan.

9. Sunan Muria
            Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga. Ia lebih suka tinggal di daerah yang terpencil untuk menyebarkan Agama Islam, dan bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan – keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana, hingga Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu sinom dan kinanti.


C. Simpulan
            Dari pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa, walisongo merupakan sembilan orang yang di kenal sebagai penyebar Agama Islam di Tanah Jawa pada abad ke- 17. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, Serta Sunan Gunung Jati. Para walisongo juga adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada massanya.   Mereka mempunyai cara sendiri – sendiri dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa untukmengubah budaya Hindhu – Budha dan di gantikan dengan kebudayaan Islam. Pengaruh mereka sangat terasakan dalam beragam bentuk manifstasi peradaban baru di masyarakat Jawa.
            Berbagai macam cara yang mereka lakukan untuk menyebarkan Agama Islam dan membangun peradaban di Tanah Jawa. Salah satu cara yang mereka lakukan yaitu dengan berdakwah, kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan hingga kepemerintahan. Walaupun banyak hambatan – hambatan, namun dengan usaha para wali dan juga dengan pertolongan Allah SWT hal itu mampu mereka lewati.



Daftar Pustaka.

Yatim Badri. 1997. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.