Minggu, 23 Juni 2013

KISAH ASIAH BINTI MAHAZIM ( ISTERI FIR’AUN )


Tersebutlah alkisah di negeri Mesir terdapat kerajaan yang diketuai oleh raja yang terakhir bernama Fir’aun yang terkenal dengan keganasan dan tidak berperikemanusian. Setelah kematian isterinya beliau hidup sendirian tanpa teman hidup. Pada waktu itu tersebutlah satu kisah di mana ada seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran yang baik-baik dan solehah yang bernama
 Siti Aisah yang senantiasa menjadi sebutan di kalangan pemuda-pemuda Mesir karena keperibadian dan kejelitaannya.

Kisah kejelitaan
 Siti Aisah telah sampai ke telinga Fir’aun dan suatu hari beliau punya keinginan untuk memperisterikan Asiah sebagai permaisurinya. Maka diutuskan seorang Menteri bernama Haman untuk merisik ( melamar ). Ibu bapak Asiah telah bertanya kepada Asiah tentang lamaran Fir’aun tetapi Aisah menolak lamaran tersebut dan berkata kepada kedua ibu bapaknya bahwa Fir’aun adalah seorang raja yang ingkar kepada Allah SWT dan tidak berperikemanusiaan. 

Tidak lama kemudian Haman, utusan Fir’aun datang kembali untuk menanyakan tentang lamaran tersebut dan alangkah marahnya beliau setelah mendapat kabar bahwa lamaran Fir’aun telah ditolak. Ibu bapak Asiah dicaci dan dihina. Haman kemudian telah pulang dan memberitahu kepada Fir’aun akan berita buruk tersebut dan Fir’aun menjadi marah dan memerintahkan supaya kedua ibu bapak Asiah ditangkap. Mereka telah disiksa dan dimasukkan ke dalam penjara. Setelah itu Asiah ditangkap dengan menggunakan kekerasan dan kemudian dibawa ke istana Fir’aun dan bertemu dengannya. Di hadapan Fir’aun, Asiah kemudian dipertemukan dengan kedua ibu bapaknya di dalam penjara. Asiah amat sedih melihat keadaan kedua orang tuanya yang disiksa oleh Fir’aun.
 

Kemudian Fir’aun berkata :
 
“Hai Asiah, jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau akan sayang terhadap kedua orang tuamu, engkau boleh pilih satu antara dua. Kalau kau menerima lamaranku berarti engkau akan hidup senang dan akan aku bebaskan kedua orang tuamu. Dan sebaliknya jika engkau menolak lamaranku, maka aku akan perintahkan mereka untuk membakar hidup-hidup kedua orang tuamu di hadapanmu.”

Oleh karena ancaman itu, maka Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir’aun akan tetapi beliau telah meletakkan beberapa syarat :
 

1. Bahwa Fir’aun harus membebaskan kedua ibu bapaknya.
2. Harus membuatkan rumah yang indah lengkap dengan perkakas
3. Bahwa orang tuanya harus dijamin kesehatan beserta makan dan minumnya.
4. Bahwa Asiah bersedia menjadi isteri Fir’aun, hadir dalam acara-acara tertentu tetapi tidak bersedia tidur bersama Fir’aun.
 

Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, beliau rela mati dibunuh bersama kedua ibu bapaknya.
 

Akhirnya Fir’aun setuju menerima syarat-syarat tersebut dan memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan Asiah dibuka. Akhirnya Asiah hidup mewah dan tinggal bersama-sama Fir’aun di dalam istana yang indah. Akan tetapi ia tidak membawa pengaruh terhadap kehidupan pribadi Asiah.
 Aisah tidak pernah ingkar terhadap perintah agama dan beliau tetap taat mengerjakan ibadah kepada Allah SWT. Pada malam hari beliau selalu mengerjakan solat dan beribadah kepada Allah SWT. Beliau senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir meskipun suaminya Fir’aun. Untuk menyelamatkan Asiah dan menjaga kehormatannya, Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyamar dirinya sama seperti rupa Asiah untuk tidur bersama Fir’aun. 

Fir’aun sebenarnya mempunyai seorang pegawai yang amat dipercayai dan rapat dengannya yang bernama Hazaqil. Hazaqil telah berhasil merahasiakan identitasnya yang sebenarnya. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyithah yang bekerja sebagai juru hias istana yang juga amat taat dan beriman kepada Allah SWT.
 

Pada suatu hari maka terjadilah perdebatan yang hebat antara Fir’aun dengan Hazaqil karena Fir’aun telah menjatuhkan hukuman mati terhadap ahli sihir yang beriman kepada Nabi Musa AS. Hazaqil menentang keras terhadap hukuman yang dijatuhkan kepada mereka semua karena mereka semuanya beriman kepada Allah SWT. Mendengar akan kata-kata Hazaqil, Fir’aun menjadi marah. Akhirnya Fir’aun tahu yang sebenarnya bahwa Hazaqil telah ingkar kepadanya sehingga Fir’aun memberi hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah dan tidak merasa gentar demi untuk membela kebenaran. Hazaqil telah meninggal dunia dengan kedua-dua tangannya diikat pada pohon kurma dengan tembusan beberapa anak panah. Isterinya yang bernama Masyitah amat sedih sekali di atas kematian suaminya yang tersayang itu. Beliau senantiasa dirundung kesedihan dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada 2 orang anaknya yang masih kecil. Pada suatu hari Masyitah telah mengadu nasib kepada Asiah mengenai nasib yang menimpa dirinya. Di akhir perbicaraan mereka, Asiah juga telah menceritakan tentang keadaan dirinya yang sebenar. Hasil dari perbicaraan itu, barulah kedua-duanya mengetahui perkara sebenar bahwa mereka adalah wanita yang amat beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa AS.
 

ASIAH binti Mazahim merupakan seorang wanita Mesir yang baik budi pekertinya dan bijaksana dalam pemikirannya. Oleh karena dia memiliki kecantikan yang tiada ada bandingan, dia dipaksa kawin dengan Fir’aun, raja Mesir yang berkuasa pada waktu itu.
 

Pada suatu hari ketika
 Aisah sedang duduk bersantai bersama dayang-dayang istana, dia melihat sebuah kotak kayu terapung-apung di tepian sungai yang mengalir melintasi istana Fir’aun. 


"Ambil kotak itu dan bawa kepada saya," perintah Asiah kepada salah seorang dayang yang berdiri di sampingnya.

Dayang itu berlari ke arah kotak yang sedang terapung-apung di tepian sungai. Dia mengangkat kotak kayu itu dari permukaan sungai lalu dibawakan kepada Asiah. Dia berdebar-debar untuk mengetahui isi kandungan kotak kayu itu.
 


"Lucunya bayi lelaki dalam kotak kayu ini!," teriak Asiah ketika penutup kotak kayu itu terbuka.

Pada waktu itu, Fir’aun memerintahkan kepada masyarakatnya untuk membunuh semua bayi lelaki Bani Israel karena dia bermimpi bayi tersebut akan menghancurkan dan membinasakan kerajaan pemerintahan Fir’aun.
 

Ketika berita penemuan bayi lelaki itu sampai ke telinga Fir’aun, maka dia bergegas ke tempat Asiah dan bayi lelaki itu.
 

"Pengawal! Bunuh bayi ini sekarang..." Perintah Fir’aun kepada pengawal yang mengiringinya ke kamar Asiah.
"Bukankah kita tidak mempunyai anak lelaki. Anak lelaki ini dapat kita jadikan anak angkat. Saya mohon agar bayi ini tidak dibunuh karena saya sudah sayang kepadanya. 

“Dia akan memberikan manfaat kepada kita berdua apabila dewasa nanti," Asiah menghalangi niat jahat Fir’aun dengan kata-kata bijaksananya.
 

"Baiklah. Saya tidak akan bunuh bayi ini karena perasaan cinta saya pada kamu," Fir’aun setuju dengan permintaan isterinya, lalu keluar dari kamar itu.

Asiah memberi nama Musa kepada bayi tersebut dan mengasuhnya dewasa di istana Fir’aun.
 
Ketika nabi Musa mula berdakwah menyebarkan ajaran Allah, maka Asiah menjadi salah seorang pengikutnya tanpa sepengetahuan Fir’aun dan orang sekelilingnya.
 

Pada suatu hari, Asiah duduk menyisir rambut anak perempuannya di kamar tidur. Tiba-tiba sikat yang digunakan Asiah untuk menyisir rambut anaknya jatuh dengan kehendak Allah.
 
Asiah yang terkejut dengan kejadian itu terus berkata, "Binasalah Fir’aun yang dilaknat Allah dengan izinnya."
 
"Dengan nama Allah," ucap Asiah tanpa menyadari anaknya memperhatikan perbuatannya dengan perasaan heran.
 
"Ibu, adakah tuhan lain selain ayah? Adakah ibu sudah menganut agama yang dibawa oleh Musa? Mengapa ibu sanggup mengikut agama Musa? Bukankah ibu menyelamatkan Musa sewaktu kecil apabila dia akan dibunuh oleh ayah," anaknya bertanya pelbagai soal kepada Asiah dan menanti jawabannya.
Ibu, adakah tuhan lain selain ayah? Adakah ibu sudah menganut agama yang dibawa oleh Musa? Mengapa ibu sanggup mengikut agama Musa? Bukankah ibu menyelamatkan Musa sewaktu kecil apabila dia akan dibunuh oleh ayah," anaknya bertanya pelbagai soal kepada Asiah dan menanti jawabannya. 

Manusia biasa
"Fir’aun, ayah kamu itu adalah manusia biasa seperti kita semua dan bukan Tuhan. Tuhan sebenarnya adalah Allah, Tuhan semesta alam!" jawab Asiah tanpa perasaan takut dan gentar. 

"Biar saya adukan perkara ini kepada ayah!," balas anaknya, lalu dia lari keluar dari bilik itu dan pergi mengadu kepada Fir’aun.


Fir’aun yang mendengar aduan anaknya merasa sangat marah dengan Asiah. Dia tidak menyangka
 Asiah sudah mengikuti ajaran Allah walaupun dia sudah melarang siapa saja di Negara Mesir untuk tidak mengikuti ajaran Allah. 

Orang yang mengingkari larangan itu akan dijatuhkan hukuman berat jika diketahui oleh Fir’aun. Kini isterinya sudah mengikut ajaran Allah, maka dia harus berbuat sesuatu supaya isterinya keluar dari agama Allah.
 


"Dengarlah nasihat saya, wahai Asiah yang amat saya cintai dan sayangi. 

"Keluarlah dari agama yang dibawa oleh Musa. Saya akan berikan segala harta dan istana di Mesir sebagai hadiah," Fir’aun coba dengan lembut membujuk Asiah dengan kata-kata manisnya.
 

"Saya tidak akan sekali-kali keluar dari agama ajaran Musa yang benar dan suci. Nanti saya akan dimurkai oleh Allah, tuhan yang mencipta saya.
 

"Jika saya tetap dalam agama ini, saya percaya Allah akan memberikan syurga yang lebih baik dari harta dan istana kamu," tegas Asiah yang tenang dan berani menatap mata Fir’aun yang menyala dengan api kemarahan.

Usaha Fir’aun membujuk isterinya menemui jalan buntu. Dia tidak mau menghukum Asiah karena perasaan kasih sayang dan cinta yang mendalam terhadap isterinya. Dia coba memikirkan cara lain bagi melembutkan hati Asiah supaya dia tidak beriman dengan ajaran nabi Musa.
 

Namun, semua ikhtiarnya gagal dan tidak menemui jalan penyelesaian. Fir’aun termenung. Wajahnya terbayang seribu kekecewaan karena gagal membujuk
 Asiah. Akhirnya, dia mengambil keputusan menggunakan kekerasan kepada Asiah supaya dia berpaling dari agama Musa. 


"Pengawal, tangkap Asiah dan bawa dia kehadapan saya sekarang!," perintah Fir’aun dengan nada keras. 

"Oleh karena kamu masih bersekukuh mau mengikuti ajaran agama Musa, maka saya jatuhkan hukuman berat ke atas kamu," kata Fir’aun lagi.
 

"Pengawal, bawa perempuan ini ke tanah tinggi dan ikatkan pada empat batang kayu. Pakukan empat kayu itu ke bumi dengan menelentangkan badan perempuan ini menghadap langit.
 

"Biarkan terik matahari yang panas, dan dingin malam menyiksanya," Fir’aun meminta para pengawalnya menjalankan hukuman ke atas Asiah dengan segera.
 

"Allah! Allah! Allah!," mulut Asiah tidak henti-henti menyebut kalimat Allah sepanjang hukuman itu dijalankan.
 

"Ya Allah! Saya mohon supaya dilindungi dari bencana Fir’aun dan dianugerahkan sebuah rumah di syurga," doa Asiah yang tersiksa dengan sinar matahari yang sangat panas dan terik.


Akhirnya
 Asiah dapat melihat rumahnya di syurga dengan kehendak Allah yang membuka hijabnya. Hatinya sangat gembira sehingga lupa pada penderitaan dan kesakitan yang sedang dialaminya. 

Setelah beberapa lama waktu penyiksaan itu berlalu, Asiah akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan kalimat Allah di mulutnya.
 

Begitulah kisah wanita yang berhati baja. Dia tetap dalam keimanannya kepada Allah walaupun disiksa sehingga mati tanpa belas kasihan.
 

Semoga menjadi iktibar . InsyaAllah.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar